Ke kantor bersepeda..sehat.

23-Jul-2008 at 10:17 Leave a comment


BAGI Rivo Pamudji, tidak butuh persiapan lama-lama untuk mulai bersepeda. Ia memutuskan bahwa waktu yang ia dibutuhkan untuk sampai ke kantornya di Kuningan dari rumahnya di Cinere lebih baik digunakan untuk berolah raga. “Saya itu tidak punya waktu untuk berolahraga,” kata Rivo kepada Media Indonesia, belum lama ini. Untuk menempuh jarak 40 kilometer pulang pergi itu, ia membutuhkan waktu total 3 jam. Waktu selama itu, menurut Rivo, lebih pas jika digunakan untuk berolahraga daripada hanya duduk. Terjebak kemacetan, tidak bisa bergerak-gerak. Di situlah awalnya ia tertarik untuk mulai bersepeda ke tempat kerja.
Aktivitas itu bermula setahun yang lalu. Awalnya hanya dua kali seminggu. Itu pun pada hari pertama, dalam perjalanan pulang, ia tidak henti-hentinya mengeluh. “Rasanya nyesel banget. Pantatnya sakit sampai tiga hari baru hilang,” ujarnya sambil tertawa.
Tapi perjalanan yang biasa ditempuhnya selama 90 menit menggunakan mobil, sekarang bisa ditempuh dalam 50 menit dengan bersepeda. Setelah satu bulan, ia baru menaikkan dosis bersepedanya jadi tiga kali seminggu. Beberapa kali bahkan ia pernah seminggu penuh bersepeda ke tempat kerja karena mobilnya harus masuk bengkel. “Sekarang, berapa kali dalam seminggu enggak masalah. Makin sering malah makin biasa. Endurance-nya lama-lama makin naik,” Rivo meyakinkan.

Sekitar setahun mengayuh sepeda melintas Jakarta, bobotnya turun sampai 10 kilogram. “Dari situ enggak bisa naik-naik lagi,” ujarnya.

Sepintas, bersepeda mungkin dipandang sebagai olahraga yang mudah dilakukan. Dokter spesialis kedokteran olahraga dari Bagian Kedokteran Olahraga Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Tanya Rotikan, mengingatkan bersepeda termasuk olahraga yang membutuhkan keterampilan. “Memang umumnya orang yang sudah dapat mengendarai sepeda sekali akan bisa seterusnya,” ujarnya saat ditemui di sebuah pusat kebugaran di pusat Kota Jakarta, Rabu (21/11).

Keterampilan utama yang dibutuhkan dalam latihan fisik ini adalah keseimbangan. Organ yang akan terpengaruh dalam latihan bersepeda termasuk jantung dan paru-paru. Sedangkan otot yang dilatih dengan bersepeda adalah otot tungkai, lengan, perut, dan punggung. Cukup membuat tubuh ‘bergerak’, bukan?

Bersepeda, dituturkan Tanya, adalah salah satu jenis olahraga aerobik, selain senam, joging, dan berenang. Ia juga mengingatkan, bersepeda bisa dilakukan sebagai aktivitas fisik, sebagai latihan fisik alias exercise, atau juga sebagai sport atau olahraga. Aktivitas fisik meliputi kegiatan sehari-hari yang melibatkan gerakan tubuh. “Ini bisa termasuk semua kegiatan kita sehari-hari, seperti menulis atau menyapu lantai, dan bersepeda santai ke warung,” ujarnya.

Tapi, tentu saja aktivitas fisik tidak optimal dalam memberikan manfaat kesehatan. Lain lagi dengan latihan fisik. Kegiatan yang termasuk latihan fisik ini adalah kegiatan yang memenuhi target denyut jantung tertentu. Misalnya bersepeda dalam jarak tertentu atau kecepatan tertentu. Sedangkan bersepeda sebagai bentuk olahraga biasanya melibatkan kompetisi. “Jenis ini tentunya khusus untuk atlet dengan persyaratan tersendiri,” kata Tanya.

Sebagai latihan yang bisa dilakukan semua kalangan, tapi tanpa kompetisi, bersepeda merupakan latihan fisik. Ini berarti bersepeda harus dapat memacu denyut jantung sesuai dengan target. Dengan begitu, fungsinya sebagai latihan yang meningkatkan kemampuan jantung dan paru-paru akan lebih optimal. Target denyut jantung yang biasanya digunakan dalam latihan fisik, urai Tanya, adalah memenuhi angka 60%-85% dari 220 dikurangi usia. Misalnya, usia kita 20 tahun, berarti target denyut jantung adalah 60% dari 200, yaitu 120 denyut per menit.

“Bila dilakukan dengan baik, benar, teratur, dan terukur, bersepeda akan mampu meningkatkan kemampuan jantung dan paru-paru dalam fungsinya sehari-hari. Otomatis organ-organ tersebut dapat bekerja secara optimal,” tambahnya.

Bersepeda baik dilakukan jika lengkap dengan pemanasan dan pendinginan, seperti umumnya latihan fisik. Perlu diperhatikan juga, apakah latihan itu dilakukan secara benar. Artinya cocok untuk seseorang. “Orang harus memerhatikan kebugaran dan kondisi medisnya, apakah cocok bersepeda,” jelas Tanya lagi.

Orang-orang pengidap asma atau penyakit jantung, misalnya, disarankan agar berkonsultasi dulu dengan dokternya tentang olahraga apa yang cocok untuk kondisi tersebut.

Sebagai olahraga aerobik, bersepeda akan optimal bagi kebugaran tubuh jika dilakukan tiga hingga lima kali dalam seminggu, dengan memenuhi target denyut jantung. “Bisa saja orang memulai secara bertahap, satu atau dua kali dulu dalam seminggu. Baru perlahan ditambah,” urai Tanya.

Tentu saja latihan itu dilakukan secara terukur juga. Tanya menjelaskan lagi, “Idealnya latihan bersepeda, seperti latihan aerobik lain, dilakukan 20 hingga 60 menit sehari.”

Ia menyarankan pembagian waktu, misalnya bersepeda 10 menit di pagi hari, dan 10 menit lagi di sore hari. Pembakaran kalori yang terjadi karena bersepeda juga tergantung pada kecepatan, berat badan, dan jenis kelamin. “Rata-rata kalori yang terbakar dengan latihan aerobik apa saja adalah 300 hingga 500 kalori per jam,” jelasnya.

Uraian seputar latihan bersepeda itu berlaku untuk dua tipe bersepeda, yakni bersepeda statis dan bersepeda dinamis. Tentu saja beberapa faktor untuk bersepeda di luar ruang bisa menjadi pertimbangan. Misalnya sinar matahari dan polusi. “Hati-hati radikal bebas,” Tanya memperingatkan.

Demi meminimalkan terkena polusi, Rivo, misalnya, memilih menghindari jalan-jalan protokol dan lewat jalan tikus. Tapi masker industri berat tetap digunakan untuk mengurangi dampak polusi. Walaupun Rivo yakin racun-racun akibat polusi akan lebih mudah luruh di tubuh mereka yang rutin berolahraga.

“Detoksifikasinya langsung pas olahraga itu. Keluar lewat darah, lewat keringat,” tambahnya.

Karyawan perusahaan swasta ini mengaku Bike2Work yang dihumasinya tengah bekerja sama dengan seorang dokter ahli paru-paru untuk sebuah penelitian tahun depan. Subjeknya adalah dampak polusi pada para pesepeda ke kantor.(Wey/Isy/M-2)

Sumber: http://www.mediaindonesia.com

Entry filed under: Uncategorized. Tags: .

MTB 29 Anatomi Sepeda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Subscribe to the comments via RSS Feed


Tentang SPEDA

Komunitas Sepeda Sembada (SPEDA) merupakan wadah Pegawai Negeri Sipil penggemar olah raga bersepeda di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Sleman yang dilaksanakan rutin sebulan sekali setiap hari Jum'at minggu kedua

Penanggalan

July 2008
M T W T F S S
    Aug »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Statistik Kunjungan

  • 24,912 Kali

Berita Terbaru


%d bloggers like this: